Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam terbanyak di dunia, Ramadan jadi momen yang ditunggu banyak orang. Selain jadi ladang ibadah, bulan suci yang datangnya satu tahun sekali ini juga ikonik dengan berbagai hal.
Signature Ritual Ramadan
Sebut saja munculnya pasar
Ramadan, sholat tarawih, adanya signature ritual Ramadan umumnya dilakukan saat
Ramadan. Tidak salah jika Ramadhan di Indonesia memang memiliki tempat
tersendiri di hati segenap masyarakat.
Adanya signature ritual
ramadan juga membuat terasa sakral tanpa meninggalkan keseruannya, bisa juga lihat keseruan ritual lainnya di blog teman saya. Berikut ada
beberapa signature ritual Ramadan yang tak asing kita lakukan, apa saja?
1. Kajian
Jangan menilai seseorang dari
berapa banyak kajian yang ia hadiri. Berada dimana ketika waktu shalat tiba. Berapa
banyak lembar kitab yang ditadaburi. Kelompok apa yang ia ikuti.
Menyusuri jalan yang sunyi
sepi, kita akan bertemu dengan banyak sekali kebaikan-kebaikan yang terlihat
secara umum. Pengorbanan para ayah yang berjuang mencari nafkah. Baktinya
seorang istri yang tak kenal keluh dalam keluarganya. Perjuangan seorang hamba
yang tak tersurat.
Aku selalu tertunduk malu saat
merenungi diri. Kemudahanku dalam beribadah, dalam mengikuti kajian dan
kemudahanku dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Adalah kemudahan yang bisa
membuatku terjebak, merasa lebih baik dari orang lain. Perasaan yang merasa
dirinya ahli ibadah.
Malam, ketelusuri jalan
sekitar rumah. Terutama di bulan Ramadan
ini, banyak yang sedang berjuang mencari sesuap rezeki. Terkadang harus bergulat
dengan hujan, yang tentu membuat jumlah pelanggan yang hadir makin berkurang
untuk menghabiskan dagangan mereka. Aku merasa tak lebih baik dari mereka.
Semoga kita selalu menjadi
sebaik-baiknya umat yang selalu mau untuk belajar kembali ke tempat kajian.
Ilmu tak akan pernah habis, semakin mendapat ilmu baru, semakin menyadari bahwa
pengetahuan yang kita miliki hanyalah sekian persen dari ilmu yang ada.
2. Buku
Ramadan
"Ternyata ibu-ibu yang menyuruh anak orang untuk mengerjakan buku ramadan itu aku"
Memasuki bulan Ramadan, bukan
hanya difokuskan untuk beribadah tapi juga diajak menyusuri lorong waktu. Kok
bisa? Entah mengapa, hanya diriku saja atau sobat Jelajah Mia juga rasakan
seperti itu.
Saat menjalani bulan Ramadan,
seolah diajak nostalgia zaman kecil. Disadari atau tidak, memang bulan Ramadan
terlalu banyak hal yang membuat kenangan.
Apa pentingnya memiliki sebuah
buku Ramadan? Apakah memang setiap murid di sekolah harus sekali mencatat
segala aktivitasnya di bulan Ramadan?
Padahal namanya aktivitas yang
bersifat ibadah biarkan itu sebuah hubungan rahasia antara hambaNya dan Sang
Pencipta. Buku Ramadan adalah sebuah laboratorium kecil untuk mengajarkan murid
memenuhi target hidup.
Mendengar dan melihat kata
target, seolah terasa berat. Padahal hidup tanpa target bagaikan sayur tanpa
garam. Sama halnya seperti saat suka ditanya, mau jadi apa? Terkadang hingga
saat ini kita masih suka mendengar, mau sukses dunia dan akhirat. Iya, sukses
dunia dan akhirat seperti apa yang ingin kita tuju.
Tujuan hidup dan target adalah
wujud dari mimpi dan harapan. Seseorang yang mempunyai target dan tujuan hidup
yang jelas, dapat membuat lebih fokus
mau berjalan ke arah mana, ingin melakukan apa dan memprioritaskan sesuatu yang
dirasa penting di dalam hidupnya.
Sederhana, saat akan melakukan
perjalanan ke suatu tempat tentu kita akan merencanakan berbagai alternatif
yang akan dilakukan, menyiapkan perlengkapan dan bahkan mempersiapkan
kemungkinan hal buruk yang dapat terjadi. Sesederhana itu ternyata analogi
sebuah target.
Tentu kita merasakan betapa
dejavu dengan buku Ramadan bukan? Buku dimana membuat bulan Ramadan jadi ajang
berlomba-lomba dalam beribadah. Walau kala itu berpikir untuk nilai agama
bagus.
3. Ronda
Ada yang tahu ronda? Budaya
ronda malam sepatutnya harus dilestarikan. Walaupun kini hiruk pikuk
perkembangan zaman mulai memudarkan semangat gotong royong warga masyarakat
Ronda adalah kegiatan malam
hari yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Indonesia, terutama selama bulan
Ramadan. Kegiatan ini melibatkan kelompok orang yang berjalan mengelilingi
lingkungan mereka.
Biasanya dilengkapi dengan
Kentongan yang setiap satu jam sekali dipukul sesuai Jam, umumnya memukul di
tiang listrik. Isyarat bunyi kentongan yang menandakan kejadian sesuatu yang
sedang terjadi. Kalau di tempat kalian, budaya sama tidak?
Sistem keamanan lingkungan
dalam bentuk ronda yang menuntut partisipasi aktif warga ini terbukti efektif
mampu menghadirkan suasana aman, nyaman, dan tenteram. Para laki-laki dewasa
atau remaja melakukan kegiatan pengamanan lingkungan pada malam.
Ronda biasanya dilakukan
setelah shalat Tarawih dan sebelum tidur. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
mempereratkan hubungan sosial antara warga, meningkatkan kesadaran religius,
dan menciptakan suasana yang lebih harmonis dan damai di masyarakat.
Selain itu, ronda juga dapat
menjadi sarana untuk mengingatkan warga akan pentingnya menjaga keamanan dan
ketertiban di lingkungan mereka. Dengan demikian, ronda dapat menjadi kegiatan
yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Hanya sayangnya saat ini
dilingkunganku yang ronda hanya tim linmas saja. Karena biasanya ronda yang
sudah dijadwalkan akhirnya banyak tidak dilakukan terutama di hari kerja.
Sekalinya bisa pas hari libur jadi bikin numpuk yang kumpul, tidak sehat juga
untuk situasi menjaga lingkungan. Jadi akhirnya disepakati membayar uang
keamanan.
4. Bukber
Bulan Ramadan identik dengan
tradisi buka bersama (bukber). Namun, di era media sosial, bukber tidak lagi
sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ajang eksistensi. Tidak heran,
banyak orang merasa FOMO (Fear of Missing Out) jika tidak ikut serta.
Fenomena FOMO ini semakin
meriah dengan tren tukar kado saat bukber. Banyak orang merasa senang untuk
memberikan kado agar tidak ketinggalan zaman.
Dulu saat masih usia 20 ke
bawah, buka bersama atau bukber di bulan Ramadan adalah salah satu hal yang
ditunggu-tunggu. Senang rasanya akan bertemu teman lama. Lagipula sering
mengunggah foto bukber dengan geng ini dan geng itu juga membuatmu terlihat
hits dan gaul.
Tapi sekarang kok rasanya
berubah. Jangankan jadi panitia bukber. Saat undangan bukber tiba, kamu malah
sibuk mengarang alasan untuk tak datang tanpa terkesan sombong.
Apa iya, kamu sekarang jadi
antisosial? Apa iya sekarang kamu nggak punya teman? Tenang saja, bukan hanya
kamu kok yang mengalami. Seiring bertambahnya usia, rasanya kamu semakin jarang
bukber, betul tidak?
Makin dewasa, seseorang bisa
jadi malas bukber karena perubahan prioritas dan kesibukan yang semakin padat.
Bukber yang baik adalah kegiatan sosial atau agama yang mempererat silaturahmi
tanpa paksaan. Bukber dan tukar kado boleh saja dilakukan, asalkan tidak
memberatkan dan tidak melupakan esensi Ramadan
5. Kultum
Kultum atau kuliah tujuh menit
merupakan cara menyampaikan ilmu pengetahuan agama secara singkat, padat dan
mengena. Meskipun disampaikan dalam tujuh menit, tapi pembahasannya cukup dalam
sehingga bisa menjadi pengingat kita sebagai muslim.
Kuliah tujuh menit ini
digunakan untuk menyampaikan kebaikan agar tergerak untuk melakukan kebaikan
pula. Penyampaiannya juga santai dan diselingi dengan sumber, mengutip surah
dalam Al-Qur’an atau hadis.
Kultum disampaikan bahasa yang
santun dan menyenangkan sehingga mudah ditangkap oleh pendengarnya. Kultum di
waktu Ramadan juga identik dengan menunggu waktu adzan magrib. Saat kultum di
TV sudah hadir maka pertanda adzan magrib sebentar lagi tiba.
Pembahasannya sangat
bervariasi, berhubungan dengan kehidupan sehari-hari maupun membahas tentang
kejadian yang sedang berlangsung. Loh berarti kultum itu ceramah? Kultum dan
ceramah adalah dua hal yang berbeda.
Dari nama aja, kultum memiliki
waktu durasi yang dibatasi, yaitu tujuh menit. Sementara, pada ceramah nggak
memiliki waktu batasan. Umumnya, kegiatan ceramah ini bisa berlangsung hingga
15 menit, 30 menit, bahkan hingga 60 menit.
Memiliki waktu yang lebih
lama, kegiatan ceramah ini pastinya membahas tentang ilmu agama atau informasi
lainnya yang lebih mendalam. Bahkan, ceramah yang disampaikan bersifat
persuasif atau mengajak dan menyakinkan pendengarnya untuk melakukan ke hal
yang lebih baik lagi dan bertambah guna. Berbeda dengan kultum yang memiliki
batas durasi dan umumnya memberikan nasehat agama Islam kepada pendengarnya.
Penutup
Dari lima signature ritual
Ramadan diatas, manakah yang Sobat Jelajah Mia jalani? Atau mau ada yang
menambahkan signature ritual Ramadan lainnya yang sobat Jelajah Mia jalani?
Sebagian besar tulisan ini
sudah di-publikasi di Instagram Jelajah Mia
dengan perubagan yang menyesuaikan kebutuhan penulisan
Post a Comment
Post a Comment